Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2014

Bismillahirahmanirahim.. Assalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Sebelumnya, silahkan mengkritisi atau berkomentar setelah membaca artikel saya asalkan dengan santun dan beretika, karena artikel ini hanya ditulis oleh seorang anak berusia 16 tahun.

Mungkin anda bertanya, mengapa anak seusia saya mengurusi politik, padahal belum waktunya, dan diluar sana justru banyak orang dewasa yang justru “buta politik” atau tidak mau mengurusi politik, jawaban saya simpel, karena di usia saya yang masih 16 inilah saya menjadi “geregetan” ingin segera memilih & ikut menentukan nasib bangsa ini. Dan juga pemuda adalah harapan masa depan bangsa ini, apa jadinya bila pemuda-pemuda kita buta politik?

DI sekolah, saya dikenal sering banyak bicara, karena tulah saya sering diutus untuk menjadi MC atau mengikuti lomba pidato, Alhamdulillah Allah memberikan saya bakat public speaking yang baik. Bahkan teman-teman saya mengatakan bahwa saya cocok untuk menjadi seorang politikus.

Hah? Politikus? Cita-cita yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan, bahkan guru saya pernah mengatakan “Orang baik sebaiknya menjauhi politik” namun statement itu berbanding terbalik dengan pernyataan ayah saya yaitu “kalau orang baik tidak masuk politik, mau negara kita dikuasi oleh orang jahat terus?”

Pernyataan tersebut ternyata juga pernah diungkapkan oleh Pak Anies Baswedan yaitu “korupsi di negara ini terjadi karena orang baik yang memilih untuk mendiamkannya”. Sejak itulah saya terpikir untuk menjadi “orang baik” dalam dunia politik.

Tapi seperti apakah “orang baik” yang dimaksud tadi? apakah yang tegas? atau merakyat? atau mungkin yang sering blusukan? Hehehe…

9 Juli besok adalah pemilihan Presiden Republik Indonesia, bahkan hari ini sudah masuk masa tenang. Saya juga bukan sedang berkampanye ini, wong milih aja belum bisa, Tetapi saya ingin sedikit mengomentari 2 kandidat capres Republik Indonesia ini, apakah sudah masuk dalam kriteria “orang baik” menurut anda?

Kita mulai dari Calon Presiden nomor urut 1 yaitu Bapak H. Prabowo Subianto, beliau lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951, beliau adalah mantan Komandan Kopassus dan saat ini menjabat sebagai ketua umum Partai Gerakan Indonesia Raya atau dikenal dengan Gerindra. Perolehan suara Partai Gerindra yang melonjak menghantarkan beliau menjadi calon Presiden Republik Indonesia & menunjuk Bapak Ir. Hatta Rajasa sebagai wakilnya.

Menurut saya, kecerdikan dan taktik beliau adalah kunci sukses sehingga beliau dapat menjadi calon Presiden Republik Indonesia saat ini, ingatlah saat beliau menjadi Cawapres dari Ibu Megawati Soekarnoputri dan kalah pada pemilu 2009? Setelah itu beliau sering “mengiklankan” dirinya bersama Partai Gerindra di beberapa stasiun TV nasional.

Di ending dari iklan tersebut selalu terdapat kalimat ini “Saya Prabowo Subianto, bersama Partai Gerindra………” yang membuat beliau semakin dikenal masyarakat & juga membuat elektabilitasnya terus meningkat, bahkan anak kecil saja sering menirukan logat dan kalimat yang Pak Prabowo ucapkan dalam iklan tersebut. Mungkin dulu kita berpikir atau berkomentar “ini pemilu masih lama tapi iklannya udah ada dmana-mana” atau “Ini iklannya Prabowo kok narsis-narsis semua”.

Namun sekarang Pak Prabowo telah menikmati hasil dari kecerdikannya itu, tinggal selangkah lagi beliau bisa menjadi orang nomor satu di negeri ini. Kans beliau sangat besar karena didukung oleh hampir seluruh Partai Islam dan 2 Partai Nasionalis yang memiliki massa terbesar di Indonesia.

Mungkin sebelumnya partai-partai koalisi tersebut tidak pernah terbayangkan akan berkoalisi dengan Partai Gerindra maupun Pak Prabowo, salah satunya Partai Keadilan Sejahtera atau PKS (Kenapa PKS? Karena guru & keluarga saya kebanyakan adalah simpatisan PKS). PKS selalu mencalonkan orang-orang yang shalih atau minimal memiliki pengetahuan islam yang memadai untuk menjadi pemimpin bangsa, seperti Ustadz Anis Matta atau Ustadz Ahmad Heryawan yang selalu digadang-gadang menjadi calon presiden.

Namun, pada akhirnya PKS berkoalisi dengan Gerindra, mungkin awalnya banyak simpatisan yang tidak setuju, namun Insha Allah keputusan dari majelis syuro ini adalah yang terbaik untuk bangsa dan ummat. Partai Islam lain yang berkoalisi adalah PAN, PPP dan PBB. Bagi Partai Amanat Nasional atau PAN, mereka cukup beruntung dengan ditunjukan Bapak Hatta Rajasa sebagai cawapres, karena aspirasi mereka untuk pemimpin bangsa terkabulkan meski menjadi cawapres.

Ya, Hatta Rajasa sejak dulu memang menjadi calon presiden dari PAN. Lain halnya dengan Partai Persatuan Pembangunan atau PPP, partai berlambang Ka’bah ini memang sejak ama mencanangkan koalisi dengan Partai Gerindra dan akhirnya terwujus. Dan terakhir adalah Partai Bulan Bintang atau PBB. Partai tersebut sempat mencanangkan Prof. Yusril Ihza Mahendra, seorang pakar hukum tata negara sebagai calon presiden, namun perolehan suara yang anjlok membuat PBB akhirnya berkoalisi dengan Gerindra dan Tim Koalisi Merah Putih.

Alasan lain mengapa Pak Prabowo memiliki kans besar yaitu karena sosoknya yang sangat tegas dalam berbagai hal, ketegasan beliau sudah terlatih sejak menjadi Komandan Kopassus. Ini penting, karena sejak dulu rakyat Indonesia mendambakan pemimpin yang tegas & tidak takut kepada pihak asing.

Soal kasus penculikan atau pelanggaran HAM yang terjadi pada tahun 1998, saya tidak mau berkomentar banyak, selain karena saya baru lahir di tahun itu. Versi-versi cerita yang saya baca juga berbeda-beda. Penjelasan Jendral (Purn.) Wiranto yang mengatakan keterlibatan Prabowo dalam kasus 1998 dinilai sebagai pembohongan publik, dan sebaliknya justru Jendral Wiranto lah yang banyak dikatakan bersalah. Namun Wallahu’allam kebenarannya.

Oke langsung saja kita menuju ke Calon Presiden Republik Indonesia nomor urut dua, beliau adalah Ir. H. Joko Widodo, pria yang akrab disapa Jokowi ini lahir di Surakarta, 21 Juni 1961 ini karir politiknya melesat tajam semenjak beberapa tahun lalu ketika menjadi Walikota Solo.

Pria yang memiliki karakter merakyat, sederhana dan dikenal sering blusukan ini memang menyihir masyarakat Indonesia. Ya gaya blsukan seperti itu emang baru populer semenjak beliau menjadi Walikota Solo.

Gayanya itu ternyata juga menyihir masyarakat Jakarta sehingga ia terpilih menjadi Gubernur Jkarta pada 2012. Itulah juga yang membuat Ibu Megawati Soekarnoputri bersama PDI-Perjuangan mengusungnya menjadi Calon Presiden pada pilpres 2014 ini, didukung oleh Partai Nasdem, PKB, PKPI dan Hanura. Beliau menunjuk Bapak H. Jusuf Kalla sebagai wakilnya.

Namun, keputusannya yang menerima pencalonannya sebagai presiden inilah yang justru menjadi bumerang untuknya, beliau dinilai gagal, tidak amanah serta membohongi warga Jakarta beserta Kota Jakarta dengan berbagai masalahnya yang belum diselesaikan sewaktu menjadi gubernur, seperti banjir macet dan lain lain. Beliau juga dinilai haus akan kekuasaan dengan ingin menjadi presiden ketika masa jabatannya belum usai.

Tetapi mungkin dosa dosa Pak Jokowi tersebut mulai terkikis dengan seringnya orang-orang yang membicarakan keburukannya, hehehe… Bahkan seorang khatib sewaktu saya shalat Jumat secara terang-terangan mengatakan “JOKOWI KAFIR” Astagfirullah… Saya sempat merinding saat mendengarkannya, pantaskah seorang khatib mengatakan itu? Terlepas dari benar atau tidaknya, jelas-jelas ada hadist yang mengatakan bahwa “dilarang mengkafirkan seseorang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat”, apabila Pak Jokowi adalah seorang muslim, maka dosa besarlah sang khatib itu.

Kans Pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia cukup besar apabila melihat karakter rakyat Indonesia yang menyukai pemimpin yang sederhana dan merakyat. Beliau memang lebih menang “figur” dibanding Pak Prabowo. Mirip seperti Presiden AS ke-40, Ronald Reagan atau Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.

Kekurangannya adalah hilangnya mosi percaya dari Warga Jakarta yang ia tinggalkan, beliau masih memiliki banyak hutang kepada Warga Jakarta. Namun beliau memiliki kekuatan dari banyaknya artis dan tokoh yang memiliki banyak massa yang mendukungnya.

Seperti Slank dengan para Slankers yang berkomitmen untuk memenangkan pasangan Jokowi-JK, dan untuk tokoh ada Pak Anies Baswedan, akademisi yang saya kagumi ini memiliki alasan yang realistis mengapa mendukung Pak Jokowi, yaitu “Saya tidak mau memilh orang yang akhir-akhir ini selalu mengiklankan dirinya untuk menjadi seorang presiden seakan-akan hidup hanya untuk menjadi presiden, saya ingin pemimpin yang akhir-akhir ini selalu bersama rakyat”.

Itulah menurut saya tentang dua capres Republik Indonesia, sekali lagi saya tidak menjurus ke salah satu calon atau berkampanye, karena saya juga masih dibawah umur, saya hanya ingin mengutarakan pendapat pribadi saya sebagai seoarang pelajar.

Terima kasih, Wassalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

 

Iklan

Read Full Post »