Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2014

index

Baru baru ini kita ketahui bahwa Mendikbud Anies Baswedan telah menghapuskan kurikulum 2013 yang dinilai aneh dan memberatkan para siswa. Saya pun juga dapat merasakan perbedaan dan keanehan kurikulum 2013 tersebut, yang paling baru adalah ketika pembagian rapot kemarin, semua nilai setiap subjek mata pelajaran diakumulasikan hingga seperti nilai di mata kuliah (IPK) dengan nilai maksimal 4. Tentu, bagi yang baru pertama kali merasakan kurikulum 2013 ini menjadi suatu keanehan karena tidak dapat melihat nilai murni yang sebenarnya. Ditambah ketika ada 1 mata pelajaran yang nilainya dibawah KKM, harus mengulang subjek mata pelajaran tersebut. Persis seperti dunia perkuliahan.

Bila kita menegok kebelakang, dulu sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah konsep Taman Siswa yang diciptakan oleh Ki Hadjar Dewantara. Dulu prinsip dari Taman Siswa itu sendiri adalah pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Pendidikan Taman Siswa dilaksanakan berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada siswa sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya.

Sistem Among tersebut mencontoh dari Sistem Tut Wuri Handayani yaitu orientasi pendidikan adalah siswa Pada sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang dimiliki dan perlu dikembangkan pada siswa, bukan pada minat dan kemampuan yang dimiliki oleh pendidik. Dan uniknya lagi, pada Sistem Taman Siswa tersebut menuntut untuk siswa menunjukkan keberanian dalam mengungkapkan pendapat, serta mengganggap pendidik sebagai kawan. bukan sebagai hal yang harus ditakuti oleh para siswa. Jadi para pendidik dahulu juga menjadi tempat curhat, tempat berbagi pengalaman dsb oleh para siswa.

Namun, Belanda yang tidak senang akan kemajuan sistem pendidikan Indonesia pun menciptakan konsep baru yang diterapkan di sekolah-sekolah Belanda di Indonesia dahulu, sistem tersebut bernama Teori Taksonomi. Teori Taksonomi ini membagi tujuan pendidikan ke dalam tiga domain, yaitu :

1. Ranah Kognitif : terdiri dari kecerdasan intelektual yaitu pengetahuan dan teori para siswa.

2. Ranah Afektif : terdiri dari perilaku dan etika para siswa.

3. Ranah Psikomotorik : terdiri dari keterampilan yang dimiliki para siswa, seperti olahraga dsb.

Dan di sistem tersebut juga dimunculkan stigma bahwa guru adalah seseorang yang harus ditakuti oleh para siswa, bukan menjadi teman kembali, seperti pada konsep taman siswa. Dengan tujuan saat itu agar rakyat Indonesia tunduk kepada para penjajah Belanda. Dan itu terbukti dengan ditonjolkannya ilmu kognitif yang membuat rakyat Indonesia selalu patuh atas Belanda karena mengganggap apa yang dilakukan Belanda itu benar. Dan itu terbukti hingga sekarang, Kognitif menjadi salah satu ranah/domain yang selalu ditonjolkan di sekolah, hanya mengenal teori tanpa melakukan praktek. Dan dengan konsep itu juga muncul juga stigma bahwa guru itu sebagai seseorang yang menyeramkan dan ditakuti.

Padahal, pada konsep Taman Siswa yang diciptakan Ki Hadjar Dewantara, murid dapat menikmati setiap pelajaran yang didapatkan karena sesuai dengan apa yang ia inginkan dan juga karena guru sangat dekat terhadap murid, jadi tidak ada rasa takut yang dirasakan para murid ketika harus berhadapan dengan guru.

Uniknya, konsep Taman Siswa tersebut kini digunakan oleh negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia yaitu Finlandia. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Siswa di Finlandia malah mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu.

Sedangkan Indonesia yang mempelopori konsep tersebut justru menempati peringkat 67 dalam kualitas pendidikan. Sungguh ironi, padahal konsep tersebut sudah ditulis dalam buku Ki Hadjar Dewantara yang berjudul Sekolah Taman Siswa. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang paling utama adalah menjadikan sekolah sebagai taman bermain, sehingga muridnya tidak stress dan justru kecanduan akan mengikuti pelajaran karena suasana yang menyenangkan.

Atas dasar itulah, Mendikbud Anies Baswedan memberhentikan kurikulum 2013 dengan mengundang 650 Kepala Diknas DI Indonesia pada tanggal 1 Desember 2014 kemarin. Semoga apa yang dilakukan Pak Anies akan menjadi angin segar bagi pembaharuan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Aamiin.

Iklan

Read Full Post »

wanita selalu benar

“Wanita selalu benar, jika wanita salah, kembali ke pasal satu”

Sebuah ungkapan yang tidak asing lagi di dunia ini. Ya, terkadang wanita selalu menganggap dirinya benar dan laki-laki itu selalu salah. Mengapa hal itu bisa terjadi? Saya coba berdiskusi tentang hal ini dengan salah satu teman saya, ia juga yang mendorong saya untuk membuat tulisan ini. Jadi tulisan ini saya persembahkan spesial untuknya.

Laki laki pada fitrahnya adalah seorang pemimpin bagi seorang wanita, namun terkadang muncul lah seorang wanita yang terlalu perfeksionis dan selalu mengharapkan sosok laki laki yang sempurna, sehingga apabila ia mendapatkan laki-laki yang tidak bisa menuruti kemauannya akan selalu disalahkan dan hal tersebut menimbulkan konflik, hingga munculnya beberapa stigma seperti “Suami Takut Istri” atau “Lelaki Yang Takut Oleh Perempuan” karena apa yang mereka lakukan selalu dipandang salah oleh wanita.

Lalu apakah itu benar? Dalam islam, hal tersebut sangat bertentangan, bayangkan saja apa jadinya seorang suami yang seharusnya menjadi panutan dan contoh bagi keluarganya justru dianggap selalu salah oleh sang istri, hal tersebut tentu akan menimbulkan konflik batin bagi keduanya. Sang suami akan merasa tidak nyaman, dan sang istri akan merasa bahwa sang suami tidak bisa memenuhi ekspektasinya.

Dan kembali kepada fitrahnya, bahwa lelaki selalu menggunakan logika ketika menyelesaikan sesuatu, dan perempuan selalu menggunakan perasaan. Masalah akan cepat selesai ketika diselesaikan dengan logika dan akan semakin panjang apabila menggunakan perasaan. Kembali pada faktanya, setinggi-tinggi nya jabatan yang dimiliki seorang wanita, ia pasti akan berkonsultasi dengan laki-laki untuk menyelesaikan masalah tersebut, karena wanita membutuhkan penyelesaian secara logika, bukan hanya dari perasaan, maka dari itu peran keduanya harus seimbang.

Termasuk bagi laki-laki, sehebat apapun seorang laki laki, takkan bisa menjadi berkembang tanpa adanya dukungan atau semangat dari wanita, hingga munculnya suatu pepatah, yaitu “Dibalik laki-laki yang hebat, pasti ada perempuan yang hebat dibelakangnya”, kalau versi saya sih “Dibalik laki laki yang hebat, pasti ada perempuan yang hebat dibelakangnya, perempuan dibelakangku saat ini adalah ibuku, selanjutnya mungkin kamu :)” hehehe hanya bercanda. Jadi kesimpulannya, laki laki dipandang salah oleh wanita karena perasaan wanita yang selalu menuntut lebih, padahal seharusnya, laki-laki dan perempuan itu saling melengkapi karena masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Read Full Post »

148964_massa-pdip-di-bundaran-hi_663_382

Kenaikan BBM pada tanggal 18/11/2014 pukul 00.00 WIB memang cukup banyak mengangetkan banyak pihak, bukan hanya karena langsung diumumkan setelah presiden terpilih kita, Joko Widodo pulang dari perjalanan dinasnya, namun kenaikan ini juga sangat mendadak dan terkesan tanpa wacana sebelumnya. Bilang kita tengok kebelakang, PDIP yang selalu menjadi partai oposisi selalu getol menolak kenaikan BBM pada rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, ketika baru mendapatkan kekuasaan, justru sebaliknya, dengan sangat “ringan tangan” harga BBM dinaikkan begitu saja tanpa melalui wacana maupun sosialisasi.

Lalu kemana jiwa pro rakyat yang selama ini selalu dikumandangkan oleh partai berlogo banteng hitam tersebut? Dengan alasan pengalihan subsidi kepada yang membutuhkan, PDIP menaikkan harga BBM secara lebih ekstrim dan progresif dibandingkan dengan rezim SBY yang saat itu menunda kenaikan harga BBM karena tidak disetujui oleh DPR dan rakyat. Lalu kemana tokoh-tokoh yang menolak kenaikan harga BBM di zaman SBY? Bahkan saat itu ada wacana bahwa partai oposisi ini akan merumuskan APBN-P 2013 versi sendiri.

Baiklah, untuk urusan kenaikan BBM ini, memang sudah sepatutnya bagi negeri ini untuk menaikan harga BBM, karena subsidi yang dikeluarkan pemerintah sudah sangat besar, pada tahun 2013 saja subsidi BBM mencapai Rp 358,2 triliun. Jumlah yang sangat fantastis dan merupakan anggaran terbesar dalam APBN. Dan sesuai janji pemerintah, anggaran alokasi BBM akan dialokasikan kepada pembangunan infrastruktur dan pembuatan kartu-kartu sakti. Kita lihat saja apakah dalam prakteknya alokasi bisa lebih tepat sasaran, atau hanya menjadi proyek baru para pejabat kotor?

Kembali ke topik, yang menjadi masalah besar sebenarnya adalah pembohongan publik yang dilakukan oleh para politisi PDIP ketika rezim SBY, karena saat ini, mereka pun kewalahan dengan berbagai permasalahan yang ada dan akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga BBM, para politisi yang dulu berkata pro rakyat, sekarang justru berbanding terbalik dengan mendukung apa yang dulu mereka lawan. Lalu kemanakah konsistensi mereka?

Salah satu tokohnya adalah Rieke Diah Pitaloka, beliau dulu adalah salah satu pengkritik terbesar kepada rezim SBY, bahkan sempat membuat surat terbuka seperti ini :

“Apa yang membuat bersikukuh menyepakati pencabutan subsidi BBM dan mengalihkannya ke Balsem (Bantuan Langsung Semaput). Apakah kita lupa bahwa kita anggota Dewan Perwakilan Rakyat? Kita dipilih rakyat.”

“Silakan cek apakah dengan kenaikan BBM dan BLT yang disalurkan para pemilih kita hidupnya jadi sejahtera? Dengan BLT apakah kesehatan, pendidikan dan ekonomi rakyat yang jadikan kita wakil rakyat hidupnya jadi lebih terjamin?”

“Kita juga sama-sama tahu, kalau BBM Naik, ongkos transportasi naik, biaya produksi naik, harga-harga pasti naik, sementara penghasilan rakyat tidak naik,” jelas anggota Komisi IX dari Fraksi PDIP itu.

“Anggota dewan yang terhormat, kita semua tahu, besok 17 Juni 2013 adalah Paripurna persetujuan APBN-P 2013. Kalau kita ikut maunya pemerintah subsidi BBM hanya 6 triliun berarti kita setuju harga BBM naik. Kalau kita alokasikan subsidi BBM 48 triliun artinya kita tidak setuju harga BBM naik. Malam ini kita punya waktu merenung bersama.”

“Betulkah keinginan sebagian besar dari kita kurangi subsidi BBM (BBM naik) betul-betul karena pertimbangan untuk menyelamatkan ekonomi rakyat ataukah karena ada dari kita jadi bagian dari konspirasi sistematis akal-akalan kelabui rakyat untuk selamatkan ekonomi diri sendiri yang butuh dana untuk pemenangan 2014?”

(sumber: http://m.liputan6.com/news/read/614384/rieke-pdip-bbm-naik-untuk-rakyat-atau-ada-konspirasi)

Begitulah kira kira bunyi surat terbuka dari beliau. Namun kini berbalik 180 derajat, Ibu Rieke justru mendukung kenaikan harga BBM, kemungkinan besar karena memang tekanan dan ancaman dari partainya, namun apabila beliau memang pro terhadap rakyat, seharusnya ancaman tersebut tidak akan menjadi apa apa. Ini artinya masih ada kepentingan dibalik para politisi PDIP tersebut.

Semoga kenaikan BBM tersebut menjadi awal bagi bangsa kita untuk menjadi lebih mandiri, dan pengalihan subsidi BBM yang dicanangkan pemerintah bisa lebih tepat sasaran tanpa adanya permainan dari para pejabat. Terakhir saya mengkutip sebuah quote : “A comfort zone is a beautiful, but nothing ever grows there” Artinya, kenaikan BBM ini akan membuat rakyat Indonesia keluar dari zona nyaman dan semoga akan menuju kemandirian yang lebih pesat. Aamiin Ya Rabbal Alamin

Read Full Post »