Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2015

ina-makana-Muslim

Indonesia merupakan negara dengan ummat muslim terbesar di dunia yaitu mencapai 207 juta atau 87,2% dari jumlah penduduk. (BPS:2011) Namun dengan gelar “penduduk muslim terbesar di dunia” tersebut apakah ummat muslim Indonesia mengikuti perkembangan agamanya? Ataukah mereka hanya menjadi bagian dari anggota pasif “Ummat Muslim” tersebut?

Mungkin saat ini bisa dikatakan ya. Dari beberapa seminar liberalisme yang pernah saya ikuti. Terdapat sebuah fakta yang menunjukan bahwa ummat muslim Indonesia tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi dengan agamanya. Mengapa bisa begitu? Kurangnya membaca dan update tentang kondisi islam saat ini menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, ketidak ingin ikut campur dalam suatu hal juga sebuah masalah yang besar.

Kita ambil contoh saja, tentang kabar ummat muslim Rohingya yang kini mengungsi di Aceh. Apakah kalian tahu mereka mengungsi dimana? Apakah mereka mendapatkan tempat yang layak? Bahkan mungkin ada yang belum tahu tentang konflik yang melanda saat ini. Mungkin akibat dari media konvensional yang terkadang kurang mengangkat isu ini ke publik dengan berbagai alasan. Namun, terlepas dari itu, kita harus saling peduli dengan para saudara sesama muslim apapun kondisinya.

Yang menjadi salah satu sorotan lain adalah masuknya berbagai aliran-aliran islam ke Indonesia. Aliran tersebut bermacam-macam jenisnya, ada yang hanya sekedar menjunjung islam yang moderat namun ada juga yang sampai merusak aqidah maupun tauhid. Namun sayang, kembali kurangnya kepedulian ummat akan hal ini membuat aliran-aliran ini sangat cepat menyebar kepada masyarakat khususnya yang awam.

Sebut saja syiah, aliran perusak aqidah ini dengan sangat cepat meluas di seluruh nusantara lewat berbagai penjuru. Mulai dari buku, nyanyian, bahkan kini sudah masuk ke parlemen lewat beberapa wakil rakyat yang terpilih. Syiah sendiri sangat sulit untuk dikenali karena memiliki suatu kebiasaan yaitu “Taqiyyah” atau berbohong demi menutupi identitas. Hal itu yang membuat ajaran syiah sangat cepat menyebar. Selain itu, tingginya kaum imigran syiah yang datang ke Indonesia dikhawatirkan akan semakin mempercepat penyebaran syiah di nusantara. Terakhir kedatangan imigran asal Afghanistan ke Balikpapan dan Pekanbaru menimbulkan tanda tanya besar, karena mereka diberikan fasilitas yang sangat mewah, bahkan dilatih untuk beladiri, sedangkan Muslim Rohingya terkatung-katung di Aceh. Sebuah tanda bahwa ada kejanggalan dibalik semua ini.

Lain hal nya dengan Jaringan Islam Liberal atau dikenal sebagai JIL, Mereka adalah sekelompok orang yang bergelar doktor bahkan professor yang menempatkan logika diatas ilmu Allah, hal itu terjadi karena mereka menganggap bahwa islam saat ini sudah tidak relevan dengan kehidupan yang ada, maka dari itu, mereka lebih menjunjung islam ke arah yang lebih moderat guna mewujudkan kesinambungan antara kehidupan saat ini dan nilai islam. Padahal, kehidupan di dunia ini sampai kapanpun telah diatur di dalam Al-Quran. Namun, mereka balik mengatakan bahwa Al-Quran hanya berlaku saat zaman nabi. Naudzubillah

Masih banyak aliran-aliran lain yang sangat berbahaya seperti dua aliran diatas, seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Ahmadiyah atau Negara Islam Indonesia (NII). Hal yang paling utama untuk menghindari ajaran tersebut adalah menguatkan aqidah serta memperkaya pengetahuan kita tentang agama islam. Karena tak ada yang bisa memperkirakan akan seperti apakah islam kedepannya nanti. Karena kebangkita islam ada di tangan para pemuda muslimnya yang aktif. Dan perang saat ini lebih kepada perang pemikiran atau ghazwul fikri dibanding perang menggunakan senjata. Kita harus aktif mengikuti segala perkembangan agama kita, karena apabila hanya sekedar beribadah tanpa mengetahui darimana asal-usulnya, bisa jadi justru hal tersebut adalah bid’ah atau tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Apabila kita hanya sekedar bersyahadat tanpa mencermatinya, bisa jadi itu adalah syahadat syiah karena mereka juga bersyahadat namun berbeda.

Apabila kita hanya sekedar sholat, bisa jadi kita tiba-tiba sholat di masjid LDII yang apabila ada jamaah yang sholat ditempat mereka maka tempat sholatnya akan langsung di pel.

Apabila kita hanya sekedar zakat atau infaq, bisa jadi infaq yang kita berikan mengalir ke kantong NII untuk mewujudkan pembuatan negaranya sendiri.

Apabila kita hanya sekedar puasa, maka bisa jadi kita tiba-tiba mengikuti statement salah satu gembong JIL yang mengatakan bahwa ciuman dengan non mahram adalah shodaqoh. Dan kita melakukan “shodaqoh” tersebut saat puasa.

Apabila kita hanya sekedar berhaji, maka jangan sampai ikut dengan rombongan syiah yang juga melakukan haji, namun berbeda apa yang mereka baca.

Mari kita bersama-sama membentengi diri kita dengan menjadikan kita sebagai muslim yang aktif. Selalu peduli dengan nasib kaum muslim yang lain. Dan Insya Allah selalu istiqomah di jalanNya.

Iklan

Read Full Post »