Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2017

dpr

Akhir-akhir ini, agak sulit rasanya ketika menginginkan negeri ini untuk kembali damai, tertib dan tentram. Pasalnya, berbagai permasalahan yang cukup pelik membuat emosi dari masyarakat Indonesia seakan-akan terus meledak dari hari ke hari. Salah satunya adalah terkuaknya kasus megakorupsi E-KTP oleh KPK terhadap beberapa Anggota DPR yang direspons dengan keinginan DPR untuk membuat Tim Pansus untuk mengawasi kinerja KPK.

Banyak kontroversi yang sejak awal sudah diperlihatkan dalam penetapan hak angket ini. Dimulai dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang melakukan walkout dikarenakan sidang masih dipimpin oleh Fahri Hamzah yang notabenenya sudah dipecat oleh partai tersebut, juga pengetukan palu sidang yang terlalu cepat dan pengesahan pansus hak angket yang dilakukan ketika ketentuan kuorum belum tercapai.

Publik tentunya bertanya-tanya dan menaruh rasa skeptis kepada DPR yang sangat bernafsu dalam pengesahan hak angket tersebut. Banyak yang mengatakan bahwa hal itu adalah salah satu upaya dalam pelemahan KPK. Apalagi mayoritas pengusung hak angket tersebut adalah nama-nama yang disebut KPK sebagai penerima uang dalam kasus megaproyek E-KTP, salah satunya adalah Agun Gunanjar, sang ketua Pansus Hak Angket KPK

Kontroversi lain adalah apakah mungkin DPR dapat memberikan Hak Angket kepada KPK yang merupakan lembaga independen? Hal tersebut telah dijawab oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra yang menyatakan bahwa DPR mampu menggunakan hak angket kepada KPK karena KPK dapat termasuk dalam lembaga eksekutif  Alasannya, amanat dari UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi saat itu menyebutkan dalam tempo dua tahun sudah harus terbentuk komisi pemberantasan korupsi yang bertugas melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan perkara-perkara korupsi.

Baiklah, mungkin Tim Pansus Hak Angket sedikit bernafas lega dengan pernyataan Prof. Yusril tersebut. Namun, mayoritas masyarakat masih bertanya-tanya dan tentunya geram dengan kelakuan dari wakil rakyat tersebut. Jika semuanya telah seperti ini, dimanakah fungsi dari Dewan Perwakilan Rakyat yang sesungguhnya? Telah lupakah mereka apabila mereka dipilih oleh rakyat dari dapilnya masing-masing?

Apakah benar citra lembaga lebih penting? Seringkali saya mendengar perkataan Fahri Hamzah yang sangat menginginkan citra dari DPR itu terjaga dan suci, bahkan mengatakan bahwa gedung DPR adalah tempat suci. Namun, tidak diikuti dengan perbuatan oknum-oknumnya yang justru membuat publik semakin tidak percaya dengan DPR. Apabila memang ingin memperbaiki citra DPR, maka buktikanlah bahwa kalian memang tidak mengambil uang negara sepeserpun, bukannya justru membuat tim yang akan melemahkan upaya dalam pemberantasan korupsi. Seperti kata pepatah “Sebaik apapun kalian menyimpan keburukan, pasti akan muncul sendiri ke permukaan”.

Semoga negeri kita selalu dilindungi dari para pejabat yang haus akan kekuasaan dan tidak amanah dalam menjalankan tugasnya. Apabila sudah terjadi, sadarkanlah mereka Ya Allah, tuntunlah ke jalan yang lurus. Agar negeri yang kaya akan sumber daya ini Engkau selalu rahmati. Aamiin yaa robbal alamin

Iklan

Read Full Post »

ekonomi-islam-copy

Ekonomi islam adalah sebuah sistem fenomena yang berkembang di sejumlah negara berkembang sampai maju dalam beberapa dekade terakhir ini. Ibarat pisau bermata dua, ekonomi islam dipandang sebagai sebuah solusi namun juga banyak yang memandang sebagai problema yang semakin rumit. Maklum, banyak yang berpandangan bahwa sistem ekonomi pancasila yang saat ini digunakan oleh Indonesia ini masih belum menyelesaikan berbagai permasalahan di negeri ini apalagi sistem ekonomi ini. Salah satu masalah yang cukup sulit diatasi adalah ketimpangan sosial yang terlampau masih cukup tinggi yaitu rasio gini sebesar 0,39 pada tahun 2016. (bps.go.id)

Banyak stigma yang muncul ketika membahas sistem ekonomi islam. Tentu, mayoritas masyarakat akan skeptis dengan sistem ini, terutama dengan bagaimana mengaplikasi sistem ekonomi islam dalam negara yang multikultural ini, karena kita tahu bahwa Indonesia tidak hanya dihuni oleh satu agama saja, melainkan ada enam agama yang diakui oleh pemerintah.

Berangkat dari sejarah dimana Kemunculan ilmu ekonomi islam modern dalam dunia nternasional, dawali pada tahun 1970 yang ditandai dengan kehadiran para pakar ekonomi Islam kontemporer, yakni seperti Muhammad Abdul Mannan, M. Nejatullah Shiddiqy, Kursyid Ahmad, An-Naqvi, M. Umer Chapra, dan lain-lain.

Sejalan dengan ini mulai terbentuklah Islamic Development Bank atau yang disingkat IDB yang kemudian berdiri pada tahun 1974 yang disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam organisasi konferensi Islam, walaupun pada utamanya bank tersebut adalah bank antar pemerintah yang bertujuan untuk dapat menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara anggotanya.

Di Indonesia sendiri, kehadiran ekonomi islam juga diawali oleh kemunculan Bank Muamalat pada tahun 1992, walau pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia cukup lambat dibanding negara islam lainnya, namun akhirnya cukup banyak bank-bank syariah yang berdiri dengan menganut dual banking system seperti Bank Mandiri Syariah atau Bank BNI Syariah. Tentu masyarakat pun bertanya apakah perbedaan mendasar bank konvensional dengan bank dengan embel-embel syariah?

Dr. Syafii Antonio menjawab bahwa bank syariah menjadi sebuah alternatif karena di dalamnya terdapat hal-hal yang sesyai dalam syariat islam, Al Quran maupun hadist. Contohnya adalah penggunaan akad-akad yang sesuai dengan Fiqh Muamalah, atau pelarangan bunga atau riba seperti di dalam surat Al Baqarah ayat 278-279.

Beliau juga menambahkan bahwa ekonomi islam bukan ajang perbedaan, namun ajang titik temu antara islam dan kristen. Karena dalam kitab bible juga melarang adanya bunga seperti dalam kitab exodus pasal 22 ayat 25 yaitu : “…….janganlah engkau bebankan bunga kepadanya”

Produk produk bank syariah juga terbukti banyak digunakan oleh non muslim. Contohnya adalah reksadana syariah, banyak pedagang keturunan Tionghoa yang berpusat di Glodok menggunakan reksadana syariah karena cenderung lebih memberikan ketenangan dibanding konvensional.

Dalam prakteknya, tentu ekonomi islam masih banyak kekurangan karena masih berumur jagung dibandingkan ekonomi konvensional, namun kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ekonomi islam adalah titik temu dari berbagai perspektif agama karena ekonomi islam menawarkan berbagai solusi untuk menyelesaikan kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran, bahkan korupsi dan masalah ekonomi lainnya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama dalam mempelajari dan mengaplikasikan sistem ini dalam masyarakat luas.

SOURCE :

https://www.bps.go.id/Brs/view/id/1280

www.seputarpendidikan.com/2016/12/sejarah-ekonomi-islam-di-dunia-dan-indonesia.html

Read Full Post »