FINTECH SYARIAH : PENDOBRAK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS UMKM DI INDONESIA

fintech gambar
Financial Technology

 

Zaman yang terus berkembang membuat segala hal terdigitalisasi, termasuk sector keuangan. Adanya teknologi telah membuat banyak perubahan di masyarakat. Tidak ketinggalan sektor teknologi keuangan atau financial technology (Fintech) yang mulai booming pada tahun 2015 lalu yang telah mengubah seluruh sistem keuangan, mulai dari pembayaran, peminjaman, urusan perbankan, manajemen aset, deteksi fraud hingga di tahapan regulasi. Financial technology/fintech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja. (Bank Indonesia:2016).

Fintech membuat segala hal kini menjadi lebih mudah, pembayaran yang kini tidak perlu membawa uang tunai, peminjaman/p2p landing yang prosesnya sangat cepat, system perencanaan keuangan yang akurat, crowdfunding hingga pembiayaan untuk umkm dan lainnya. Bank Indonesia yang telah melihat geliat dari fintech ini telah membuat berbagai regulasi diantaranya adalah Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran, Surat Edaran Bank Indonesia No.

18/22/DKSP perihal Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital dan Peraturan Bank Indonesia No. 18/17/PBI/2016 tentang Uang Elektronik.

Statistik pengguna fintech juga terus menunjukan arah yang positif, berdasarkan statistik Bank Indonesia (BI), volume transaksi fintech juga terus mengalami peningkatan. Tahun 2017, nilai transaksi fintech telah mencapai US$18,65 miliar (Rp251,78 triliun) naik 24,17% dari tahun 2016 sebesar US$15,02 miliar (Rp202,77 triliun). Otoritas Jasa Keuangan juga menyebutkan bahwa hingga Januari 2018, jumlah peminjam di perusahaan fintech mencapai 260 ribu orang dengan nilai pinjaman sebesar 3 trilliun rupiah. Hal tersebut sangatlah positif mengingat fintech baru berkembang pada 3 sampai 4 tahun terakhir ini.

Meskipun awal kehadiran fintech didominasi oleh produk keuangan konvensional, namun perlahan-lahan fintech berbasis syariah mulai dikenalkan kepada public. Pada dasarnya Fintech harus merujuk kepada salah satu prinsip muamalah yaitu ‘an taradhin atau asas kerelaan para pihak yang melakukan akad. Asas ini menekankan adanya kesempatan yang sama bagi para pihak untuk menyatakan proses ijab dan qabul (Darsono dkk, 2016). Syarat yang harus dipenuhi adalah harus ada objek (‘aqid), subjek (mu’qud ‘alaihi) dan keinginan untuk melakukan aqad (sighat) dan rukun yang harus wujud adalah adanya harga/upah serta manfaat. Hukum juga harus mengiringi, misalnya berbentuk undang–undang, fatwa dan sertifikasi halal. (Mukhlisin:2017)

Dalam fintech syariah, hal yang ditawarkan tidak hanya berjalan pada sektor keuangan syariah komersial, seperti perbankan syariah dan pasar modal syariah, namun juga dapat mencakup implementasi pada keuangan sosial syariah, seperti pengumpulan dan penyaluran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf, fintech syariah juga banyak menekankan pada pembiayaan bebas riba untuk menunjang peranan Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia.

UMKM di Indonesia merupakan sebuah sector yang harus diperhatikan bersama, hal tersebut berangkat dari data statistik dari Otoritas Jasa Keuangan tahun 2017 yang menyebutkan bahwa peranan UMKM terhadap perekonomian Indonesia mencakup 60% dalam penyediaan lapangan kerja dan 40% sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto/PDB. Dalam prakteknya, perusahaan fintech syariah berperan sebagai aggregator yang menyediakan layanan pinjaman kepada UMKM yang berbasis peer-to-peer landing. Mitra dalam penyaluran pembiayaan tersebut biasanya adalah perbankan syariah atau institusi keuangan non bank syariah.

Sebagai salah satu contoh fintech syariah yang telah legal oleh OJK adalah Ammana. Ammana mengklaim telah menjangkau lebih dari 1.000 pengguna dan 420 investor dengan perputaran uang lebih dari Rp1 miliar. Ammana menargetkan transaksi dana wakaf yang masuk ke perusahaannya bisa mencapai Rp250 miliar, sementara untuk pembiayaan UKM sendiri ditargetkan sebesar Rp100 miliar. Target tersebut tidak akan tercapai apabila literasi masyarakat mengenai keuangan syariah tidak kunjung membaik. OJK mencatatkan literasi keuangan syariah hanya 8,11% pada tahun 2016 sedangkan literasi keuangan nasional mencapai 29,66% pada periode yang sama.

Edukasi soal literasi keuangan syariah sangat dibutuhkan masyarakat guna memberikan  pengetahuan perbedaan mengenai fintech syariah dan konvensional. Meskipun keduanya berbasis pada teknologi dan sama-sama memberikan pinjaman, menjadi kurang relevan apabila membandingkan peer to peer lending fintech konvensional dengan peer to peer financing fintech syariah. Meskipun judulnya sama, namun skema yang diberikan jelas berbeda. Dalam konvensional resiko kegagalan usaha diminimalisir dengan memperbesar bunga, sedangkan fintech syariah adalah fasilitator antara investor dan juga pihak yang membutuhkan dana dengan akad yang disepakati.

Fintech syariah dapat terus menuju kearah positif untuk terus mengarahkan UMKM di Indonesia ke arah yang lebih produktif untuk meningkatkan PDB dan mengurangi pengangguran. Hal tersebut dapat terwujud apabila dibarengi dengan pemberian edukasi kepada masyarakat dan pelaku UMKM di bidang keuangan syariah. Karena sejatinya syariah tidak hanya terbatas pada hunaukum-hukum islam saja, namun juga untuk mewujudkan kebermanfaatan bagi seluruh masyarakat.

Daftar Pustaka

https://www.bi.go.id/id/edukasi-perlindungan-konsumen/edukasi/produk-dan-jasa-sp/fintech/Pages/default.aspx

https://tirto.id/ammana-fintech-syariah-pertama-yang-dapat-izin-dari-ojk-cKqS

https://www.validnews.id/Fintech-Syariah–Menyasar-Ceruk-Pasar-Anti-Riba-fzH

Gambar : https://www.forbes.com/sites/ciocentral/2018/07/10/how-fintech-initiatives-are-driving-financial-services-innovation/#7bec3b6d54fa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s