PROSPEK PERBANKAN SYARIAH YANG GO PUBLIC DI BURSA SAHAM

naufal98
Saham Go Public

Sektor keuangan merupakan satu-satunya sektor di Bursa Efek Indonesia yang menyumbang paling sedikit terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).  Dari 91 emiten yang tergabung di sektor keuangan ini, hanya 4 emiten yang dinyatakan sebagai saham syariah, yaitu Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS), Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk. (BTPS), Bank Panin Dubai Syariah Tbk. (PNBS), dan Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk. (JMAS).

Padahal terdapat beberapa bank syariah lain yang memiliki prospek yang cerah namun belum melakukan Go Public. Hal ini bukan dikarenakan performa bank syariah tersebut butuk, namun diperlukan persiapan yang matang untuk mendukung perusahaan melakukan Go Public. Selain itu juga diperlukan adanya analisis pasar guna menggambarkan prospek saham tersebut di masa mendatang. Bank Syariah juga perlu mempersiapkan berbagai persyaratan dan keperluan administratif seperti perizinan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum melakukan penawaran umum saham perdana atau Initial Pulbic Offering (IPO).

Selain itu, terdapat bank syariah yang sedang mempersiapkan untuk melakukan go public seperti Bank Bukopin Syariah dan Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah yang merencanakan go public pada tahun 2020 dan 2019. Permasalahan yang paling banyak terdapat pada perbankan syariah adalah Non Performing Financing atau resiko pembiayaan yang masih cukup tinggi sehingga rawan untuk investasi jangka Panjang.

Lalu bagaimana perbankan syariah yang telah go public? Bank BRI Syariah (BRIS) misalnya kinerja PT Bank BRI Syariah Tbk di kuartal III-2018 cukup apik. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini BRI Syariah mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 151 miliar atau meningkat 19% secara year on year (yoy) dari periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar Rp 127 miliar. Sementara itu, sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini BRI Syariah mampu menyalurkan pembiayaan Rp 21,28 triliun, naik 14% dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 27,76 triliun atau secara yoy meningkat sebesar 9% dari periode yang sama di 2017 yaitu sebesar Rp 25,36 triliun. Namun, NPF BRIS yang mencapai 4,3% patut menjadi perhatian dikarenakan batas NPF untuk perbankan syariah adalah 5%

Sementara PNBS mengalami penurunan laba bersih sebesar 21,92% sepanjang kuartal III-2018 yaitu sebesar Rp 11,76 miliar di akhir September lalu dibanding dengan Rp 15,07 miliar pada akhir September 2017. Penurunan laba bersih tersebut terjadi karena adanya penurunan pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib yang turunnya mencapai 25,66%. Pada periode ini perusahaan hanya bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 452,80 miliar dibanding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 609,14 miliar. Sedangkan NPF PNBS sebesar 3,84%. Dengan demikian, laba per saham dari bank syariah ini mengalami penurunan dari sebelumnya Rp 1,48/saham menjadi hanya sebesar Rp 0,72/saham.

Sementara BTPN Syariah (BTPS) mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 21 persen dengan nilai Rp 6,96 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tingginya pertumbuhan pembiayaan BTPS tersebut diakibatkan oleh rendahnya NPF BTPS yaitu sebesar 1,56% Sementara itu Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh sebesar 18 persen mencapai Rp 7,25 triliun Laba Bersih Laba bersih setelah pajak (NPAT) yang tercatat juga tumbuh baik pada kuartal III 2018 yakni Rp 698 miliar atau tumbuh 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Permasalahan yang selalu dihadapi oleh perbankan syariah adalah tingginya resiko pembiayaan yang macet atau non performing finance (NPF). NPF perbankan syariah secara agregat pada Juni 2018 adalah sebesar 3,83%. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan NPF perbankan konvensional yang mencapai  2,16%. NPF yang tinggi selama ini juga karena faktor ekonomi makro yang mengalami stagnasi pertumbuhan pada lima persen dan tertekannya sektor riil yang akan sangat mempengaruhi perbankan syariah. Salah satu solusinya adalah perbankan syariah merestruktrisasi pembiayaan dan harus lebih hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan untuk menjaga NPF tersebut agar tetap dibawah 5%.

Kesimpulannya, sebagai “pemain baru” dalam sektor keuangan di dalam pasar modal. Perbankan syariah harus terus menjaga kepercayaan investornya melalui berbagai capaian. Perbankan syariah harus dapat menjaga laba besih, NPF dan lain-lain demi menjaga kinerja perusahaan tersebut. Harapannya apabila kinerja perbankan syariah mencatatkan angka positif, maka semakin banyak juga investor yang membeli saham perbankan syariah tersebut. Selain itu, terdapat juga faktor religiusitas pada investor yang membeli saham perbankan syariah. Salah satunya adalah Ustadz Yusuf Mansur yang membeli saham BRIS pada saat penawaran pertama sebesar kurang lebih 20 persen dari total saham yang dilepas ke publik sebesar 2.623.350.600 saham. Hal itu harus dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap perbankan syariah di Indonesia.

 

Daftar Pustaka :

https://www.brisyariah.co.id/beritaBRIS.php?news=282

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/10/19/153000726/kuartal-iii-laba-bersih-btpn-syariah-tumbuh-49-persen

https://keuangan.kontan.co.id/news/pembiayaan-turun-laba-bersih-panin-dubai-syariah-susut-219-di-kuartal-iii-2018

sumber gambar : https://www.sahamok.com/perusahaan-publik-terbuka-tbk-emiten-bei-bursa-efek-indonesia/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s