Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

naufal98

Saham Go Public

Sektor keuangan merupakan satu-satunya sektor di Bursa Efek Indonesia yang menyumbang paling sedikit terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).  Dari 91 emiten yang tergabung di sektor keuangan ini, hanya 4 emiten yang dinyatakan sebagai saham syariah, yaitu Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS), Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk. (BTPS), Bank Panin Dubai Syariah Tbk. (PNBS), dan Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk. (JMAS).

Padahal terdapat beberapa bank syariah lain yang memiliki prospek yang cerah namun belum melakukan Go Public. Hal ini bukan dikarenakan performa bank syariah tersebut butuk, namun diperlukan persiapan yang matang untuk mendukung perusahaan melakukan Go Public. Selain itu juga diperlukan adanya analisis pasar guna menggambarkan prospek saham tersebut di masa mendatang. Bank Syariah juga perlu mempersiapkan berbagai persyaratan dan keperluan administratif seperti perizinan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum melakukan penawaran umum saham perdana atau Initial Pulbic Offering (IPO).

Selain itu, terdapat bank syariah yang sedang mempersiapkan untuk melakukan go public seperti Bank Bukopin Syariah dan Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah yang merencanakan go public pada tahun 2020 dan 2019. Permasalahan yang paling banyak terdapat pada perbankan syariah adalah Non Performing Financing atau resiko pembiayaan yang masih cukup tinggi sehingga rawan untuk investasi jangka Panjang.

Lalu bagaimana perbankan syariah yang telah go public? Bank BRI Syariah (BRIS) misalnya kinerja PT Bank BRI Syariah Tbk di kuartal III-2018 cukup apik. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini BRI Syariah mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 151 miliar atau meningkat 19% secara year on year (yoy) dari periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar Rp 127 miliar. Sementara itu, sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini BRI Syariah mampu menyalurkan pembiayaan Rp 21,28 triliun, naik 14% dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 27,76 triliun atau secara yoy meningkat sebesar 9% dari periode yang sama di 2017 yaitu sebesar Rp 25,36 triliun. Namun, NPF BRIS yang mencapai 4,3% patut menjadi perhatian dikarenakan batas NPF untuk perbankan syariah adalah 5%

Sementara PNBS mengalami penurunan laba bersih sebesar 21,92% sepanjang kuartal III-2018 yaitu sebesar Rp 11,76 miliar di akhir September lalu dibanding dengan Rp 15,07 miliar pada akhir September 2017. Penurunan laba bersih tersebut terjadi karena adanya penurunan pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib yang turunnya mencapai 25,66%. Pada periode ini perusahaan hanya bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 452,80 miliar dibanding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 609,14 miliar. Sedangkan NPF PNBS sebesar 3,84%. Dengan demikian, laba per saham dari bank syariah ini mengalami penurunan dari sebelumnya Rp 1,48/saham menjadi hanya sebesar Rp 0,72/saham.

Sementara BTPN Syariah (BTPS) mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 21 persen dengan nilai Rp 6,96 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tingginya pertumbuhan pembiayaan BTPS tersebut diakibatkan oleh rendahnya NPF BTPS yaitu sebesar 1,56% Sementara itu Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh sebesar 18 persen mencapai Rp 7,25 triliun Laba Bersih Laba bersih setelah pajak (NPAT) yang tercatat juga tumbuh baik pada kuartal III 2018 yakni Rp 698 miliar atau tumbuh 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Permasalahan yang selalu dihadapi oleh perbankan syariah adalah tingginya resiko pembiayaan yang macet atau non performing finance (NPF). NPF perbankan syariah secara agregat pada Juni 2018 adalah sebesar 3,83%. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan NPF perbankan konvensional yang mencapai  2,16%. NPF yang tinggi selama ini juga karena faktor ekonomi makro yang mengalami stagnasi pertumbuhan pada lima persen dan tertekannya sektor riil yang akan sangat mempengaruhi perbankan syariah. Salah satu solusinya adalah perbankan syariah merestruktrisasi pembiayaan dan harus lebih hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan untuk menjaga NPF tersebut agar tetap dibawah 5%.

Kesimpulannya, sebagai “pemain baru” dalam sektor keuangan di dalam pasar modal. Perbankan syariah harus terus menjaga kepercayaan investornya melalui berbagai capaian. Perbankan syariah harus dapat menjaga laba besih, NPF dan lain-lain demi menjaga kinerja perusahaan tersebut. Harapannya apabila kinerja perbankan syariah mencatatkan angka positif, maka semakin banyak juga investor yang membeli saham perbankan syariah tersebut. Selain itu, terdapat juga faktor religiusitas pada investor yang membeli saham perbankan syariah. Salah satunya adalah Ustadz Yusuf Mansur yang membeli saham BRIS pada saat penawaran pertama sebesar kurang lebih 20 persen dari total saham yang dilepas ke publik sebesar 2.623.350.600 saham. Hal itu harus dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap perbankan syariah di Indonesia.

 

Daftar Pustaka :

https://www.brisyariah.co.id/beritaBRIS.php?news=282

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/10/19/153000726/kuartal-iii-laba-bersih-btpn-syariah-tumbuh-49-persen

https://keuangan.kontan.co.id/news/pembiayaan-turun-laba-bersih-panin-dubai-syariah-susut-219-di-kuartal-iii-2018

sumber gambar : https://www.sahamok.com/perusahaan-publik-terbuka-tbk-emiten-bei-bursa-efek-indonesia/

Iklan

Read Full Post »

fintech gambar

Financial Technology

 

Zaman yang terus berkembang membuat segala hal terdigitalisasi, termasuk sector keuangan. Adanya teknologi telah membuat banyak perubahan di masyarakat. Tidak ketinggalan sektor teknologi keuangan atau financial technology (Fintech) yang mulai booming pada tahun 2015 lalu yang telah mengubah seluruh sistem keuangan, mulai dari pembayaran, peminjaman, urusan perbankan, manajemen aset, deteksi fraud hingga di tahapan regulasi. Financial technology/fintech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja. (Bank Indonesia:2016).

Fintech membuat segala hal kini menjadi lebih mudah, pembayaran yang kini tidak perlu membawa uang tunai, peminjaman/p2p landing yang prosesnya sangat cepat, system perencanaan keuangan yang akurat, crowdfunding hingga pembiayaan untuk umkm dan lainnya. Bank Indonesia yang telah melihat geliat dari fintech ini telah membuat berbagai regulasi diantaranya adalah Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran, Surat Edaran Bank Indonesia No.

18/22/DKSP perihal Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital dan Peraturan Bank Indonesia No. 18/17/PBI/2016 tentang Uang Elektronik.

Statistik pengguna fintech juga terus menunjukan arah yang positif, berdasarkan statistik Bank Indonesia (BI), volume transaksi fintech juga terus mengalami peningkatan. Tahun 2017, nilai transaksi fintech telah mencapai US$18,65 miliar (Rp251,78 triliun) naik 24,17% dari tahun 2016 sebesar US$15,02 miliar (Rp202,77 triliun). Otoritas Jasa Keuangan juga menyebutkan bahwa hingga Januari 2018, jumlah peminjam di perusahaan fintech mencapai 260 ribu orang dengan nilai pinjaman sebesar 3 trilliun rupiah. Hal tersebut sangatlah positif mengingat fintech baru berkembang pada 3 sampai 4 tahun terakhir ini.

Meskipun awal kehadiran fintech didominasi oleh produk keuangan konvensional, namun perlahan-lahan fintech berbasis syariah mulai dikenalkan kepada public. Pada dasarnya Fintech harus merujuk kepada salah satu prinsip muamalah yaitu ‘an taradhin atau asas kerelaan para pihak yang melakukan akad. Asas ini menekankan adanya kesempatan yang sama bagi para pihak untuk menyatakan proses ijab dan qabul (Darsono dkk, 2016). Syarat yang harus dipenuhi adalah harus ada objek (‘aqid), subjek (mu’qud ‘alaihi) dan keinginan untuk melakukan aqad (sighat) dan rukun yang harus wujud adalah adanya harga/upah serta manfaat. Hukum juga harus mengiringi, misalnya berbentuk undang–undang, fatwa dan sertifikasi halal. (Mukhlisin:2017)

Dalam fintech syariah, hal yang ditawarkan tidak hanya berjalan pada sektor keuangan syariah komersial, seperti perbankan syariah dan pasar modal syariah, namun juga dapat mencakup implementasi pada keuangan sosial syariah, seperti pengumpulan dan penyaluran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf, fintech syariah juga banyak menekankan pada pembiayaan bebas riba untuk menunjang peranan Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia.

UMKM di Indonesia merupakan sebuah sector yang harus diperhatikan bersama, hal tersebut berangkat dari data statistik dari Otoritas Jasa Keuangan tahun 2017 yang menyebutkan bahwa peranan UMKM terhadap perekonomian Indonesia mencakup 60% dalam penyediaan lapangan kerja dan 40% sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto/PDB. Dalam prakteknya, perusahaan fintech syariah berperan sebagai aggregator yang menyediakan layanan pinjaman kepada UMKM yang berbasis peer-to-peer landing. Mitra dalam penyaluran pembiayaan tersebut biasanya adalah perbankan syariah atau institusi keuangan non bank syariah.

Sebagai salah satu contoh fintech syariah yang telah legal oleh OJK adalah Ammana. Ammana mengklaim telah menjangkau lebih dari 1.000 pengguna dan 420 investor dengan perputaran uang lebih dari Rp1 miliar. Ammana menargetkan transaksi dana wakaf yang masuk ke perusahaannya bisa mencapai Rp250 miliar, sementara untuk pembiayaan UKM sendiri ditargetkan sebesar Rp100 miliar. Target tersebut tidak akan tercapai apabila literasi masyarakat mengenai keuangan syariah tidak kunjung membaik. OJK mencatatkan literasi keuangan syariah hanya 8,11% pada tahun 2016 sedangkan literasi keuangan nasional mencapai 29,66% pada periode yang sama.

Edukasi soal literasi keuangan syariah sangat dibutuhkan masyarakat guna memberikan  pengetahuan perbedaan mengenai fintech syariah dan konvensional. Meskipun keduanya berbasis pada teknologi dan sama-sama memberikan pinjaman, menjadi kurang relevan apabila membandingkan peer to peer lending fintech konvensional dengan peer to peer financing fintech syariah. Meskipun judulnya sama, namun skema yang diberikan jelas berbeda. Dalam konvensional resiko kegagalan usaha diminimalisir dengan memperbesar bunga, sedangkan fintech syariah adalah fasilitator antara investor dan juga pihak yang membutuhkan dana dengan akad yang disepakati.

Fintech syariah dapat terus menuju kearah positif untuk terus mengarahkan UMKM di Indonesia ke arah yang lebih produktif untuk meningkatkan PDB dan mengurangi pengangguran. Hal tersebut dapat terwujud apabila dibarengi dengan pemberian edukasi kepada masyarakat dan pelaku UMKM di bidang keuangan syariah. Karena sejatinya syariah tidak hanya terbatas pada hunaukum-hukum islam saja, namun juga untuk mewujudkan kebermanfaatan bagi seluruh masyarakat.

Daftar Pustaka

https://www.bi.go.id/id/edukasi-perlindungan-konsumen/edukasi/produk-dan-jasa-sp/fintech/Pages/default.aspx

https://tirto.id/ammana-fintech-syariah-pertama-yang-dapat-izin-dari-ojk-cKqS

https://www.validnews.id/Fintech-Syariah–Menyasar-Ceruk-Pasar-Anti-Riba-fzH

Gambar : https://www.forbes.com/sites/ciocentral/2018/07/10/how-fintech-initiatives-are-driving-financial-services-innovation/#7bec3b6d54fa

Read Full Post »

ekonomi-islam-copy

Ekonomi islam adalah sebuah sistem fenomena yang berkembang di sejumlah negara berkembang sampai maju dalam beberapa dekade terakhir ini. Ibarat pisau bermata dua, ekonomi islam dipandang sebagai sebuah solusi namun juga banyak yang memandang sebagai problema yang semakin rumit. Maklum, banyak yang berpandangan bahwa sistem ekonomi pancasila yang saat ini digunakan oleh Indonesia ini masih belum menyelesaikan berbagai permasalahan di negeri ini apalagi sistem ekonomi ini. Salah satu masalah yang cukup sulit diatasi adalah ketimpangan sosial yang terlampau masih cukup tinggi yaitu rasio gini sebesar 0,39 pada tahun 2016. (bps.go.id)

Banyak stigma yang muncul ketika membahas sistem ekonomi islam. Tentu, mayoritas masyarakat akan skeptis dengan sistem ini, terutama dengan bagaimana mengaplikasi sistem ekonomi islam dalam negara yang multikultural ini, karena kita tahu bahwa Indonesia tidak hanya dihuni oleh satu agama saja, melainkan ada enam agama yang diakui oleh pemerintah.

Berangkat dari sejarah dimana Kemunculan ilmu ekonomi islam modern dalam dunia nternasional, dawali pada tahun 1970 yang ditandai dengan kehadiran para pakar ekonomi Islam kontemporer, yakni seperti Muhammad Abdul Mannan, M. Nejatullah Shiddiqy, Kursyid Ahmad, An-Naqvi, M. Umer Chapra, dan lain-lain.

Sejalan dengan ini mulai terbentuklah Islamic Development Bank atau yang disingkat IDB yang kemudian berdiri pada tahun 1974 yang disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam organisasi konferensi Islam, walaupun pada utamanya bank tersebut adalah bank antar pemerintah yang bertujuan untuk dapat menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara anggotanya.

Di Indonesia sendiri, kehadiran ekonomi islam juga diawali oleh kemunculan Bank Muamalat pada tahun 1992, walau pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia cukup lambat dibanding negara islam lainnya, namun akhirnya cukup banyak bank-bank syariah yang berdiri dengan menganut dual banking system seperti Bank Mandiri Syariah atau Bank BNI Syariah. Tentu masyarakat pun bertanya apakah perbedaan mendasar bank konvensional dengan bank dengan embel-embel syariah?

Dr. Syafii Antonio menjawab bahwa bank syariah menjadi sebuah alternatif karena di dalamnya terdapat hal-hal yang sesyai dalam syariat islam, Al Quran maupun hadist. Contohnya adalah penggunaan akad-akad yang sesuai dengan Fiqh Muamalah, atau pelarangan bunga atau riba seperti di dalam surat Al Baqarah ayat 278-279.

Beliau juga menambahkan bahwa ekonomi islam bukan ajang perbedaan, namun ajang titik temu antara islam dan kristen. Karena dalam kitab bible juga melarang adanya bunga seperti dalam kitab exodus pasal 22 ayat 25 yaitu : “…….janganlah engkau bebankan bunga kepadanya”

Produk produk bank syariah juga terbukti banyak digunakan oleh non muslim. Contohnya adalah reksadana syariah, banyak pedagang keturunan Tionghoa yang berpusat di Glodok menggunakan reksadana syariah karena cenderung lebih memberikan ketenangan dibanding konvensional.

Dalam prakteknya, tentu ekonomi islam masih banyak kekurangan karena masih berumur jagung dibandingkan ekonomi konvensional, namun kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ekonomi islam adalah titik temu dari berbagai perspektif agama karena ekonomi islam menawarkan berbagai solusi untuk menyelesaikan kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran, bahkan korupsi dan masalah ekonomi lainnya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama dalam mempelajari dan mengaplikasikan sistem ini dalam masyarakat luas.

SOURCE :

https://www.bps.go.id/Brs/view/id/1280

www.seputarpendidikan.com/2016/12/sejarah-ekonomi-islam-di-dunia-dan-indonesia.html

Read Full Post »

kurikulum.jpg

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 (Kurtilas) memang sering disebut sebagai momok bagi sebagian siswa. Berbagai alasan muncul ketika ditanya mengapa begitu dibencinya kurikulum tersebut. Dari mulai jadwal pelajaran yang bertambah, jadwal sekolah yang semakin padat, UN yang menjadi 2 kurikulum, sampai nilai rapor yang memang sulit untuk dibaca karena menggunakan skala 4,00 seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) seperti di bangku kuliah.

Sekolah saya baru menerapkan Kurikulum 2013 di tahun 2014/2015. Dimana saat itu saya duduk di kelas 11. Alhasil nilai di rapor pun berubah drastis, saat masih menggunakan KTSP 2006 nilai yang ditampilkan masih mudah untuk dibaca karena menggunakan skala 100, kini menjadi sulit dibaca karena nilai maksimal adalah 4,00.

Awalnya hal itu saya anggap wajar, karena memang sistem pendidikan dalam negara ini yang mengatur semuanya. Namun ketika sekolah saya kembali ke KTSP 2006, barulah masalah-masalah muncul. Ya, sekolah saya memang hanya menggunakan Kurikulum 2013 selama setengah semester karena dianggap kurang efektif dalam mengembangkan metode belajar siswa. Ketika kembali ke KTSP, kami bersyukur. Tanpa menyadari akan datangnya sebuah masalah.

Masalah akan muncul ketika kelas 12, sudah 3x saya kesulitan melakukan pendaftaran universitas dikarenakan perbedaan kurikulum ini. Karena biasanya universitas hanya menyediakan pilihan, apabila KTSP harus tetap KTSP dan apabila Kurtilas harus tetap Kurtilas.

Universitas yang saya pertama daftar adalah Universitas Trisakti jalur rapor. Saat itu calon peserta didik diminta untuk melampirkan nilai dalam skala 100 secara konsisten. Namun hal ini dapat diakali dengan mengalikan nilai di Kurtilas dengan 25, walaupun di hasil scan raport tetap menampilan nilai Kurtilas. Alhamdulillah saya diterima, tentunya untuk cadangan mengingat belum dibukanya pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri (PTN)

Selanjutnya ketika SNMPTN, saya kembali terkejut karena rata-rata saat nilai Kurtilas tidak sebaik nilai saat KTSP. Padahal, SNMPTN sangat mengharamkan apabila nilai rata-rata semester 1 sampai 5 ada yang turun. Hal tersebut dapat membuat peserta SNMPTN langsung tereliminasi, walau ada juga yang menyangkal isu tersebut. Akhirnya saya pun tetap daftar SNMPTN walaupun peluangnya sangat kecil. Saya mengambil Prodi Ekonomi Islam di Universitas Brawijaya.

Dan terakhir, baru saja saya alami kemarin, tepatnya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ketika hendak mendaftar, saya yakin telah membaca persyaratan pendaftaran dengan benar. Saya pun melakukan verifikasi kemarin (18/4). Namun ketika pemeriksaan berkas, rapor saya dianggap salah karena menyatukan dua kurikulum dalam satu rapor. Hal itu terjadi ketika saya berada di semester 3. Saya pun diminta untuk menghadap Penanggung Jawab Harian (PJH) saat itu.

Alangkah terkejutnya saya, ketika petugas PJH menyuruh saya untuk pulang karena hal tersebut. Saya diharuskan mengkonversikan nilai Kurtilas ke nilai KTSP yang selanjutnya wajib dilegalisir oleh pihak sekolah. Setelah itu baru boleh melakukan verifikasi, saya pun diberikan nomer antrian ulang oleh sang petugas.

Saya kecewa, sungguh kecewa, saking kecewanya, saya pun tidak membayar parkir untuk satpam yang berjaga disana, sang satpam pun melotot ke arah saya (apabila satpam yang dimaksud membaca tulisan ini, saya mohon maaf). Saya pun berpikir keras untuk menyelesaikan hal ini, tentu saja ini membutuhkan waktu yang lama, apalagi sekolah saya tidak membuat rapor KTSP saat semester tersebut.

Hal ini bukanlah kesalahan sekolah saya, karena sekolah hanya mengikuti sistem pendidikan. Bukan pula kesalahan STAN, meskipun tidak menyuruh untuk mengkonversikan nilai, namun perguruan tinggi sekelas STAN memanglah tidak main-main dalam menyeleksi siswanya. Kesalahan ini ada pada sistem pendidikan, yang berevolusi tanpa memperhatikan kesiapan sekolah-sekolah, terutama dalam hal yang mungkin dianggap kecil seperti rapor. Hingga akhirnya terjadi shock seperti yang saya alami saat ini.

Apabila ada sekolah yang mengalami hal seperti sekolah saya, mohon segera untuk mengubah nilai rapornya menjadi satu kurikulum. Karena dualisme dalam bentuk apapun hanya akan menyebabkan kontravensi baik bersumber dari internal maupun eksternal. Apabila sudah terlanjur dan kalian juga mendaftar STAN, maka segeralah untuk meminta nilai yang telah dikonversi resmi dari sekolah. Agar waktu kalian tidak terbuang sia-sia seperti saya.

Read Full Post »

Kepemimpinan-Ary-Ginanjar

Seorang pemimpin adalah orang yang mempengaruhi sekelompok orang tertentu untuk bergerak dalam arah yang diberikan Tuhan.

J. Robert Clinton-

Kepemimpinan merupakan sebuah hal yang sangat sakral dan penting dalam kehidupan ini. Manusia pada dasarnya adalah seorang pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Bagi laki-laki, minimal dapat memimpin keluarganya menjadi keluarga yang harmonis. Namun, ketika sudah masuk ke ranah yang lebh luas, tentu akan ada cobaan yang lebih besar, dan kembali itu adalah resiko bagi seorang pemimpin.

Ketika saya membaca biografi para pemimpin, mulai dari Presiden Republik Indonesia sampai Ketua BEM Universitas Indonesia,  selalu saya temukan kesalahan atau kebijakan kontroversi yang mereka buat. Memang bagi seorang pemimpin, mengambil sebuah keputusan adalah langkah yang sangat berat, karena di dalamnya pasti terdapat pro-kontra dari para bawahannya.

Sebut saja Presiden Soeharto, presiden kedua negara ini yang berkuasa selama 32 tahun. Boleh diakui bahwa di zaman Soeharto pembangunan di Indonesia berlangsung sangat cepat, sayangnya di dalamnya sarat unsur Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Akhirnya rakyat yang tak tahan dengan kekuasaan beliau melengserkannya pada tahun 1998.

Atau Presiden SBY yang dengan berani menaikan harga BBM pada tahun 2013, di satu sisi, beliau harus bertindak karena menilai adanya salah sasaran dalam subsidi BBM jenis premium, karena mayoritas digunakan oleh orang yang mampu. Namun, di satu sisi beliau harus menerima celaan, protes serta demo besar-besaran oleh seluruh rakyat Indonesia akibat keputusannya menaikan harga BBM tersebut.

Atau di skala yang lebih kecil lagi, yaitu kontroversi keputusan Ketua BEM Universitas Indonesia, Andi Aulia Rahman yang membatalkan demo besar-besaran menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) karena ajakan Presiden Jokowi untuk makan malam di istana hari sebelumnya.

Menurut beliau, ada berbagai cara untuk menyelesaikan masalah dan menyuarakan aspirasi, dan itu semua tidak harus dilakukan dengan turun ke jalan. Akhirnya beliau pun memilih untuk menghadiri pertemuan dengan Presiden Jokowi.

Bagi masyarakat yang mungkin tidak mengetahui ini, pasti akan menilai bahwa Ketua BEM UI telah disogok oleh presiden untuk membatalkan demo. Namun, saya yakin selalu ada petimbangan yang dilakukan oleh Bang Andi untuk membuat keputusan tersebut. Tidak mungkin tak ada pertimbangan maupun koordinasi dalam sebuah organisasi ketika ketuanya akan mengambil keputusan.

Saya pun pernah dihadapkan dalam pengambilan sebuah keputusan yang menurut saya cukup berat. Ketika saya menjabat sebagai Ketua OSIS SMA, saya dihadapkan pada keinginan kawan-kawan yang menginginkan untuk libur ketika kelas 12 ujian sekolah. Karena baru tahun itu saja kami diperintahkan masuk walaupun setengah hari.

Di dalam hati, saya ingin menolak hal tersebut. Karena menurut saya 1 minggu adalah waktu yang cukup lama dan sangat disayangkan apabila tidak diisi oleh belajar. Namun kawan-kawan saya menuntut hal tersebut. Dan akhirnya karena salah satu Visi-Misi OSIS saya adalah menyampaikan keluhan siswa, maka saya pun memperjuangkan hal itu. Dan dapat ditebak, demo tersebut mendapat respon yang sangat negatif oleh guru. Hingga akhirnya, keputusan saya sebagai Ketua OSIS yang ikut mendukung hal tersebut pun dipertanyakan.

Beberapa bulan kemudian saya baru menyadari bahwa keputusan yang saya ambil memanglah sebuah blunder, seorang pemimpin boleh menyuarakan aspirasi rakyatnya, asalkan ia memperhitungkan resiko yang didapat ketika menyuarakan aspirasi tersebut. Jangan sampai merugikan orang lain, apalagi diri sendiri. Pemimpin adalah sebuah posisi strategis, tugasnya adalah “menjalankan” bukan “dijalankan”.

Seperti itulah kira-kira gambaran konsekuensi dan resiko bagi seorang pemimpin. Kembali lagi yang ingin saya ingatkan adalah setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin pasti sudah melalui pertimbangan dan koordinasi. Maka, janganlah langsung menilai benar salahnya keputusan tersebut. Karakteristik orang berbeda beda, begitu pula dengan gaya kepemimpinannya. Namun, tentulah yang dituju hanyalah satu, yaitu keberhasilan apa yang ia pimpin.

“Pemimpin tak harus sempurna, yang perlu dilakukan adalah menaati kata hati, tak perlu memikirkan orang lain akan berpikir apa kepada kita”

-Ms. Susi Dariah-

Read Full Post »

rusmin

Rusmin Nurjadin, mungkin sebagian orang mengenal beliau adalah Menteri Perhubungan Indonesia yang ke 27. Nama beliau juga diabadikan menjadi nama Landasan Udara (Lanud) di Pekanbaru, Riau. Maka tak heran apabila orang Pekanbaru cukup akrab dengan nama ini.

Namun, yang akan saya bahas adalah Rusmin Nurjadin yang berbeda, yaitu seorang guru di sekolah saya, SMA Islam Sinar Cendekia. Nama beliau tidak asing lagi dikalangan siswa-siswi, beliau dikenal dengan panggilan “Pak Rusmin”. Kegemarannya terhadap sastra dan segala yang beraroma seni, menjadikannya sebagai guru Bahasa Indonesia dan Literasi.

Sebelumnya saya memang tidak mengenal beliau karena beliau adalah Guru SMP. Namun semenjak pindah ke SMA, beliau menjadi walikelas saya disaat kelas 11. Dari situ kami mulai sering berdiskusi untuk menyikapi atau menyelesaikan sebuah masalah, dari situ pula saya mengetahui bagaimana kehidupan beliau dimasa yang dulu. Sungguh saya sangat kagum dengan perubahan 180 derajat yang beliau lakukan dari dulu hingga sekarang.

Mulai dari kisah beliau dengan modal nekat merantau ke Jakarta, kemudian bertemu dengan Bpk DR. Zulkifliemansyah, pemilik sekolah Sinar Cendekia yang kebetulan juga berasal dari Sumbawa. Hingga akhirnya direkrut untuk menjadi guru di SMA Islam Sinar Cendekia. Semua skenario tersebut tersusun rapi. Allah memang selalu memberikan jalan terbaik bagi hambaNya yang mau berusaha.

Pak Rusmin mungkin bukan tipe guru yang selalu benar dalam memberikan penjelasan. Perbedaan pendapat sangat sering terjadi di kelas beliau karena pandangan beliau dan murid-muridnya terkadang berbeda. Namun itu cukup dapat dimaklumi. Toh, sastra bukanlah sesuatu yang jawabannya mutlak seperti matematika. Dan kita semua juga dalam proses pembelajaran.

Namun yang saya sangat kagumi dari beliau adalah, kemauan beliau untuk mendengarkan pandangan atau curahan hati dari para muridnya dengan sangat lapang dada. Ya, beliau adalah pendengar yang sangat baik, tak jarang banyak siswa/i yang mencurahkan isi hatinya kepada beliau. Karena beliau adalah orang yang sangat terpercaya.

Sikap beliau mengingatkan saya pada kisah guru-guru di masa sistem pendidikan Tut Wuri Handayani. Dimana saat itu, guru dianggap seperti kawan, yang selalu mendengarkan curahan hati atau pandangan dari murid-muridnya. Namun sekarang, guru-guru justru ditakuti oleh para muridnya.

Dan yang membuat saya semakin kagum adalah bagaimana cara beliau menjadikan perantauannya di Jakarta ini bukan hanya untuk sekedar bekerja. Keinginan beliau untuk memfokuskan diri dalam bidang pendidikan ditunjukan dengan resminya beliau menjadi Magister Pendidikan (S2) dari suatu universitas di Jakarta. Bahkan terakhir beliau mengatakan bahwa telah mengambil program Doktoral (S3). Sebuah pencapaian yang luar biasa di usia beliau yang masih muda.

Dan di Jakarta pula, beliau menemukan pendamping hidupnya, tepat 13 Agustus 2015 kemarin, beliau menikah dengan Kak Fido, wanita yang beliau temui ketika kita sedang berkelana ke Gunung Prau, Dieng.

Barakallah Pak Rusmin dan Kak Fido. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan ketenangan hidup, diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah, dan menjadi keluarga yang saqinah, mawaddah dan warrahmah.

Terkhusus untuk Pak Rusmin, tetaplah menjadi guru yang dekat dengan murid. Karena kehormatan seorang murid tidak perlu diminta, namun dapat ditumbuhkan ketika murid dapat nyaman ketika dekat dengan gurunya.

Read Full Post »

ina-makana-Muslim

Indonesia merupakan negara dengan ummat muslim terbesar di dunia yaitu mencapai 207 juta atau 87,2% dari jumlah penduduk. (BPS:2011) Namun dengan gelar “penduduk muslim terbesar di dunia” tersebut apakah ummat muslim Indonesia mengikuti perkembangan agamanya? Ataukah mereka hanya menjadi bagian dari anggota pasif “Ummat Muslim” tersebut?

Mungkin saat ini bisa dikatakan ya. Dari beberapa seminar liberalisme yang pernah saya ikuti. Terdapat sebuah fakta yang menunjukan bahwa ummat muslim Indonesia tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi dengan agamanya. Mengapa bisa begitu? Kurangnya membaca dan update tentang kondisi islam saat ini menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, ketidak ingin ikut campur dalam suatu hal juga sebuah masalah yang besar.

Kita ambil contoh saja, tentang kabar ummat muslim Rohingya yang kini mengungsi di Aceh. Apakah kalian tahu mereka mengungsi dimana? Apakah mereka mendapatkan tempat yang layak? Bahkan mungkin ada yang belum tahu tentang konflik yang melanda saat ini. Mungkin akibat dari media konvensional yang terkadang kurang mengangkat isu ini ke publik dengan berbagai alasan. Namun, terlepas dari itu, kita harus saling peduli dengan para saudara sesama muslim apapun kondisinya.

Yang menjadi salah satu sorotan lain adalah masuknya berbagai aliran-aliran islam ke Indonesia. Aliran tersebut bermacam-macam jenisnya, ada yang hanya sekedar menjunjung islam yang moderat namun ada juga yang sampai merusak aqidah maupun tauhid. Namun sayang, kembali kurangnya kepedulian ummat akan hal ini membuat aliran-aliran ini sangat cepat menyebar kepada masyarakat khususnya yang awam.

Sebut saja syiah, aliran perusak aqidah ini dengan sangat cepat meluas di seluruh nusantara lewat berbagai penjuru. Mulai dari buku, nyanyian, bahkan kini sudah masuk ke parlemen lewat beberapa wakil rakyat yang terpilih. Syiah sendiri sangat sulit untuk dikenali karena memiliki suatu kebiasaan yaitu “Taqiyyah” atau berbohong demi menutupi identitas. Hal itu yang membuat ajaran syiah sangat cepat menyebar. Selain itu, tingginya kaum imigran syiah yang datang ke Indonesia dikhawatirkan akan semakin mempercepat penyebaran syiah di nusantara. Terakhir kedatangan imigran asal Afghanistan ke Balikpapan dan Pekanbaru menimbulkan tanda tanya besar, karena mereka diberikan fasilitas yang sangat mewah, bahkan dilatih untuk beladiri, sedangkan Muslim Rohingya terkatung-katung di Aceh. Sebuah tanda bahwa ada kejanggalan dibalik semua ini.

Lain hal nya dengan Jaringan Islam Liberal atau dikenal sebagai JIL, Mereka adalah sekelompok orang yang bergelar doktor bahkan professor yang menempatkan logika diatas ilmu Allah, hal itu terjadi karena mereka menganggap bahwa islam saat ini sudah tidak relevan dengan kehidupan yang ada, maka dari itu, mereka lebih menjunjung islam ke arah yang lebih moderat guna mewujudkan kesinambungan antara kehidupan saat ini dan nilai islam. Padahal, kehidupan di dunia ini sampai kapanpun telah diatur di dalam Al-Quran. Namun, mereka balik mengatakan bahwa Al-Quran hanya berlaku saat zaman nabi. Naudzubillah

Masih banyak aliran-aliran lain yang sangat berbahaya seperti dua aliran diatas, seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Ahmadiyah atau Negara Islam Indonesia (NII). Hal yang paling utama untuk menghindari ajaran tersebut adalah menguatkan aqidah serta memperkaya pengetahuan kita tentang agama islam. Karena tak ada yang bisa memperkirakan akan seperti apakah islam kedepannya nanti. Karena kebangkita islam ada di tangan para pemuda muslimnya yang aktif. Dan perang saat ini lebih kepada perang pemikiran atau ghazwul fikri dibanding perang menggunakan senjata. Kita harus aktif mengikuti segala perkembangan agama kita, karena apabila hanya sekedar beribadah tanpa mengetahui darimana asal-usulnya, bisa jadi justru hal tersebut adalah bid’ah atau tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Apabila kita hanya sekedar bersyahadat tanpa mencermatinya, bisa jadi itu adalah syahadat syiah karena mereka juga bersyahadat namun berbeda.

Apabila kita hanya sekedar sholat, bisa jadi kita tiba-tiba sholat di masjid LDII yang apabila ada jamaah yang sholat ditempat mereka maka tempat sholatnya akan langsung di pel.

Apabila kita hanya sekedar zakat atau infaq, bisa jadi infaq yang kita berikan mengalir ke kantong NII untuk mewujudkan pembuatan negaranya sendiri.

Apabila kita hanya sekedar puasa, maka bisa jadi kita tiba-tiba mengikuti statement salah satu gembong JIL yang mengatakan bahwa ciuman dengan non mahram adalah shodaqoh. Dan kita melakukan “shodaqoh” tersebut saat puasa.

Apabila kita hanya sekedar berhaji, maka jangan sampai ikut dengan rombongan syiah yang juga melakukan haji, namun berbeda apa yang mereka baca.

Mari kita bersama-sama membentengi diri kita dengan menjadikan kita sebagai muslim yang aktif. Selalu peduli dengan nasib kaum muslim yang lain. Dan Insya Allah selalu istiqomah di jalanNya.

Read Full Post »

Older Posts »